Loading...
Maristeia
Maro's

Maristeia

Rp 129.000
Di kota yang tak dapat dikategorikan kecil, terdapat satu bangunan kokoh bertitel Aristeia, sebuah bangunan yang menghimpun insan-insan kreatif—secara spesifik, sebuah perusahaan penerbitan dengan tiga divisi mayor yakni Redaksi Fiksi, Redaksi Non-fiksi, serta Majalah Moodest. Bukan hanya signifikan dalam menopang kredibilitas di dunia percetakan, siapa sangka Aristeia ini juga di balik layar dan titelnya sebagai tokoh di dunia percetakan, menjadi penghubung antara Meru Jiwa Mahasastra dengan perempuan yang selama ini ia cari, Kaia Zantisya.
Category: Romance
Di kota yang tak dapat dikategorikan kecil, terdapat satu bangunan kokoh bertitel Aristeia, sebuah bangunan yang menghimpun insan-insan kreatif—secara spesifik, sebuah perusahaan penerbitan dengan tiga divisi mayor yakni Redaksi Fiksi, Redaksi Non-fiksi, serta Majalah Moodest. Bukan hanya signifikan dalam menopang kredibilitas di dunia percetakan, siapa sangka Aristeia ini juga di balik layar dan titelnya sebagai tokoh di dunia percetakan, menjadi penghubung antara Meru Jiwa Mahasastra dengan perempuan yang selama ini ia cari, Kaia Zantisya.

Berawal dari penemuan Meru akan naskah Gleon yang ditulis oleh Ivy, nama pena Kaia. Mereka pun akhirnya menjalin komunikasi. Mengenalkan diri sebagai editor M dan Kaia sebagai Ivy, membuat mereka merasa tidak asing satu sama lain. Lewat Januar, rekan kerjanya di Aristeia Meru akhirnya mengetahui nama asli dari Ivy adalah Kaia, dan untuk membuktikan hal tersebut akhirnya Meru memutuskan untuk menemui Kaia yang kebetulan sedang jatuh sakit dan dirawat. Setelah meminta izin, Meru dan Januar pun menemui Kaia sekaligus memastikan apakah benar jika perempuan itu adalah Kaia orang yang selama ini Meru cari. Ternyata benar adanya. Penulis yang selama ini ia lamar naskahnya itu, adalah sosok yang selama ini Meru cari. Setelah temu kangen yang diwarnai dengan tangis haru, hubungan mereka pun semakin dekat. Bukan hanya sekadar hubungan antara editor dan penulis. Kedekatan Meru dan Kaia pun semakin intensif dari hari ke hari. Meru pun akhirnya memutuskan untuk membawa Kaia pada orangtuanya dan berencana untuk langsung mengikat hubungan mereka ke tahap yang lebih serius, yaitu pertunangan dan akan dilanjutkan dengan pernikahan. Meru merasa takut jika harus kehilangan Kaia lagi untuk yang kedua kalinya. Meru pun menyusun sebuah rencana lamaran. Ia menyiapkan cincin serta proposal yang berjudul ‘Proposal Permohonan Membangun Keluarga Bersama’ untuk Kaia. Saat membaca proposal tersebut, Kaia langsung kalang kabut karena sudah lama ia hidup penuh dengan keterbatasan. Bayangan mengenai pernikahan saja, tidak berani ia pikirkan. Kaia pun berkonflik dengan dirinya sendiri. Jauh di lubuk hatinya, Kaia ingin menerima lamaran Meru, tapi di sisi lain, ia pesimis dan bepikir kalau dirinya tak pantas dan tidak tahu malu jika menerima lamaran itu. Hingga akhirnya ia meminta waktu untuk berpikir sejenak akan keputusannya. Namun, bukan hanya Kaia yang terpuruk karena hal ini. Meru pun berpikir demikian. Pria itu pun dirundung rasa gelisah dan rasa bersalah karena merasa mengambil langkah yang gegabah secara subjektif. Hingga akhirnya Meru tidak ada pilihan lain selain pasrah. Kaia pergi menenangkan diri dengan pergi ke rumah peninggalan orangtuanya, bermaksud menghabiskan beberapa malam di sana. Di kamar orangtuanya, ia menangis sembari mengobrol mengenai kegelisahan yang tengah ia hadapi seolah-olah orangtuanya ada di sana dan dapat mendengarnya hingga akhirnya ia terlelap. Dirinya bermimpi amat indah pada malam itu, mimpi itu seolah datang memberi pencerahan untuknya. Dia menghubungi Meru, memintanya untuk datang ke kediaman orangtuanya agar mereka dapat bicara mengenai lamaran Meru padanya. Selain itu, ia juga hendak memberikan Meru sebuah ‘proposal permohonan’ yang akan dia sampaikan secara lisan. Meru kemudian datang dengan kotak berisi berbagai benda termasuk cincin yang didedikasikan untuk Kaia di dalamnya. Ia menyiapkan itu semua untuk diberikan pada Kaia kalau-kalau dirinya ditolak. Namun, siapa sangka justru malah Kaia yang mengajukan permohonan agar dirinya diterima oleh Meru walau ia tak bisa menawarkan apa-apa lagi selain rumah peninggalan orangtuanya untuk mereka tinggali bersama nantinya. Jelas saja, langsung Meru terima. Lebih tepatnya, mereka saling menerima.
Jumlah Halaman
Penerbit
Tanggal Terbit
350
Arunika Dunia Literasi
15/09/2022

Panjang
Lebar
Berat
20 cm
14 cm
400 gram

ISBN
Penulis
978-623-6197-92-9
Maro

Related Books

No Data Found